Perlawanan Bambang Andi Prijono melawan ganggreng dengan Daun afrika Selatan.



Di tahun 2012 Bambang Andi Prijono mempunyai problem luka di kaki sebelah kanan. Awalnya hanya kena paku. Kemudian terjadi infeksi dan membengkak. Walau saat itu tidak terlihat luka menganga di kulit ternyata di bagian dalam sudah terdapat banyak nanah. Dokter spesialis bedah di salah satu rumah sakit di bogor merawat luka ini dengan membuka dan mengeluarkan nanahnya.  Kemudian seperti standar pengobatan medis, luka itu selalu di perban dan dikasih cairan kalau tidak salah NaCL, yang berguna untuk pertumbuhan sel baru. Anjuran dokter si pasien tidak boleh membuka perban yang ada karena takut kotor dan infeksi semakin menjadi.

Dengan demikian perban itu hanya dibuka oleh dokter/perawat yang membantu 2 kali dalam seminggu. Saat penggantian perban pasien harus tidur terlentang maka pasien tidak pernah tahu perkembangan yang nyata tentang lukanya. Hanya ada kecurigaan padanya itu dari isyarat saat dokter membuka perbannya, karena dokter sering menggelengkan kepala. Setelah beberapa minggu berlalu ternyata telapak kaki sebelah kanan Bambang sudah cukup parah, pembusukan menjadi jauh lebih besar dan beberapa tulang sudah kelihatan.

Sepatu gaanggreng buatan sendiriSaat itu Bambang mulai ragu dengan penanganan yang ada, karena dokter spesialis yang bersangkutan sudah memberi signal bila perkembangan tetap demikian, telapak kaki lebih bagus dipotong. Itu untuk penyelamatan keseluruhan katanya. Kemudian Bambang berfikir seperti ada kesalahan dalam penanganan sampai kakinya mungkin harus dipotong. Kemudian dia berfikir kalau sama-sama terjadi kesalahan dan menanggung akibatnya sehingga kaki harus dipotong biarlah diri sendiri yang membuat kesalahan. Jangan kesalahan orang lain (dokter) tetapi akibatnya dia yang harus menanggung.  “Karena itu kaki saya sendiri” ujarnya. Sejak saat itu Bambang sudah tidak mau ditangani oleh dokter dan mencoba menangani sendiri.

Dia mencoba dengan kebiasaan orang dulu, luka itu cepat sembuh bila kering. Dan saat diperban Sepatu untuk ganggrengoleh dokter itu selalu dikasih cairan. Bambang mencoba tidak pakai perban lagi, agar lukanya kena udara. Untuk mempertahankan kebersihan dan gangguan dari serangga, Bambang membuat sepatu khusus untuk dirinya. Sepatu itu sangat terbuka untuk udara tetapi aman dari dari lalat dan serangga lain. Obat yang dipakai juga obat seadanya yang dia pernah dengar, obat tabur putih dan obat tetes cina. Ternyata luka itu memang bandel tidak mau sembuh-sembuh. Kadang kelihatan mau kering tetapi kemudian basah lagi.

Pada saat itu dia mendapat informasi dari pengguna kapsul daun afrika. Ternyata bubuk daun afrika sangat bagus untuk penyembuhan luka termasuk ganggreng. Caranya dengan menaburkan bubuk daun afrika langsung ke lukanya. Untuk luka baru rasanya pedih sekali. Dengan informasi itu Bambang sendiri agak ragu-ragu, “masa’ bubuk daun afrika langsung ditaburkan di luka ganggreng yang ada. Apa malah tidak bikin kotor?”. Karena Bambang  sudah agak putus asa dengan luka ganggrengnya akhirnya dia nekat saja ditaburkan. Sehari kemudian lukanya ternyata sedikit mengering, tidak terlalu basah seperti biasanya. Dua kali dalam sehari Bambang kemudian menaburkan bubuk daun afrika selatan pada lukanya. Secara perlahan keajaiban terjadi. Daging yang dulu kelihatan membusuk akhirnya pelan-pelan mulai tumbuh. Dan dalam 6 minggu tulang-tulang yang dulu kelihatan sudah mulai tertutup daging lagi dan luka secara perlahan agak mengecil. Sampai akhirnya luka itu benar-benar sembuh. Hanya sayang beberapa jari kaki di tempat itu tidak bisa digerakkan lagi dengan baik.

Di sebagian wilayah di NTT, ternyata daun afrika selatan digunakan masyarakat sebagai penyembuh luka yang sangat manjur.

web statistics