deteksi-kanker-payudaraJakarta, Salah satu langkah deteksi dini kanker payudara adalah dengan melakukan mammografi, alias pemindaian kanker payudara. Dibanding melakukan mammografi yang membutuhkan sejumlah biaya, melakukan pemeriksaan sendiri ternyata sama efeknya.

Sebuah studi jangka panjang menunjukkan bahwa pemeriksaan kanker payudara tahunan dengan mammografi tidak mengurangi risiko kematian pada wanita paruh baya jika dibanding dengan pemeriksaan rutin ke dokter dan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI). Artinya baik pemeriksaan sendiri, pemeriksaan berkala ke dokter, maupun mammografi memiliki manfaat yang sama.

Terlebih, pemeriksaan dengan mammografi tak jarang memberikan diagnosis yang sebenarnya tidak akurat. Peneliti dari Universitas Toronto mengatakan, 22 persen diagnosis kanker payudara oleh mammografi ternyata merupakan peringatan palsu. Oleh karena itu, wanita berusia 40 atau 50 tahun tak perlu terlalu mencemaskan mammografi tahunan.

Mette Kalager beserta koleganya telah mengamati lebih dari 89.000 wanita paruh baya selama lebih dari seperempat abad. Wanita-wanita yang diamati termasuk wanita yang tidak mendapat mammografi.

Dalam studi itu, sebagian wanita melakukan pemeriksaan mammografi sebanyak lima kali selama lima tahun, sedangkan kelompok lain tidak melakukan pemeriksaan. Akan tetapi, sebagian besar partisipan mendapat pemeriksaan fisik tahunan, terkecuali mereka yang hanya mendapat pemeriksaan sekali sebagai bagian penelitian.

Hasilnya? Lebih dari 3200 wanita di grup mammografi didiagnosis dengan kanker payudara, dan 3100 wanita di grup nonmammografi didiagnosis dengan kanker payudara. Pada dua grup tersebut, sekitar 500 partisipan telah meninggal ketika penelitian berakhir.

"Jumlah mortalitas kumulatif yang diakibatkan kanker payudara sama antara wanita yang menjalani mammografi dengan wanita di grup kontrol," ungkap Kalager, sebagaimana dikutip dari Medical daily, Selasa (18/2/2014).

Selama seperempat abad penelitian, para ilmuwan mengamati diagnosis mammografi. Setelah lima tahun, 142 diagnosis kanker payudara pada wanita yang menjalani mammografi rupanya merupakan diagnosis yang tidak tepat. Setelah 15 tahum jumlah salah diagnosis itu tidak berubah, yakni sebanyak 106 kasus. Hal itu menyiratkan tingginya tingkat kesalahan pada pemeriksaan mammografi.

Kalager memperingatkan, temuan ini mungkin tidak berlaku di negara berkembang tapi sangat berarti di negara-negara maju.

"Hasil penelitian kami mendukung pendapat dari beberapa komentator bahwa latar belakang untuk melakukan pemeriksaan dengan mammografi harus dikaji ulang oleh pembuat kebijakan," papar Kalager.

Meski demikian, para wanita tetap dianjurkan untuk melakukan deteksi dini kanker payudara dengan SADARI atau pemeriksaan secara berkala pada dokter. Tidak harus melakukan mammografi karena pemeriksaan itu tidak mengurangi risiko kematian.

Sumber: health.detik.com

web statistics